Dosen Cantik Dalam Ruang Kelasku
Pagi yang temen-temen bilang pagi yang indah, berjalan di kejauhan sepasang kaki mungil seorang cewe yang boleh di bilang “cantik” menurut ukuran mahasiswa yang tidak pernah merasakan cinta, alias jomblo. Masuklah dia kedalam ruang kelas yang boleh di bilang lumayan, lumayan ancur, bau dan kotor. Fakultas kami emang paling jelek se universitas. Tak ada angin atau badai ataupun mimpi buruk tadi malem ternyata dan ternyata cewe itu adalah dosen kelasku pagi ini, Rina namanya, dosen salah satu mata kuliah yang boleh di bilang mata kuliah yang bikin botak kepala dan memusingkan dengan angka-angka yang gak jelas dan membuat mual perut. Selama bertaun-taun dan bermacam semester akhirnya ada juga dosen yang membikin mata merem melek, dan gak merem terus. Sebelum dia ada, mata mahasiswa selalu tersakiti dengan di suguhi wajah-wajah dosen yang sudah di bilang fakir dan afkir, dengan kata lain, miskin akan tampilan cantik ataupun ganteng dan udah gak produktif lagi alias tua, dan bila di ibaratkan tebu yang cuma tinggal ampas tanpa ada sari untuk dapat di nikmati kesegarannya. Gak cewe gak cowo semua dosen suka memelihara uban mereka dan wajah keriput yang membosankan dan bikin mata merah. Mata yang berharap banyak akan keindahan ternodai selama bertaun-taun dengan wajah serem berbagai karakter dosen afkir. Akhirnya masa ke emasan mahasiswa datang juga dengan ke hadiran bu Rina, dewi cinta yang lumayan, lumayan cantiknya, ca’emnya, asoinya+geboinya yang bisa ngepotin mata mahasiswa yang terbiasa dfengan berbagai adegan film porno. Biarpun aku gak pernah ngobrol ataupun bertanya pelajaran padanya tapi hati ini merasa deket banget, seperti kepompong ulet yang melekat erat di dahan pohon atau seperti istilah ngetren kantor pos, bak perangko dengan amplop. Oh bu Rina, sorot matanya tajam man, seperti cewe yang minta di cium dengan gaya perlahan dan pelan namun pasti menghanyutkan, dengan gaya bicara yang agak gimana namun menggairahkan, dia mampu menghanyutkan mata para cwo dalam genggaman kekuasaannya dalam menerangkan mata kuliah yang dia ajarkan. Lama-lama aku merasa bukan pelajaran yang masuk daam otakku selama ini tapi wajah bu Rina yang aduhai yang terus masuk dan semakin dalam menggerayangi syaraf motorikku yang terus terbayang dan suka menggoda dan menggangu konsentrasi belajarku. Dasar bu Rina, maunya apa si? Tapi ada kata sayang dan sungguh sayang yang mengikuti perjalanannya menyusuri batinku yang meronta-ronta untuk berkata kagum padanya, bu Rina yang cantik ternyata sudah punya peliharaan kuda liar, dengan kata lain bersuami. Ohhhh………..betapa sedihnya hati mahasiswamu yang satu ini bu Rina. Bu Rina oh bu Rina, tetep semangatlah dalam menghanyutkan hati ini dan mahasiswamu yang lain.
