Jumat, 24 April 2009

Dosen Cantik Dalam Ruang Kelasku


Pagi yang temen-temen bilang pagi yang indah, berjalan di kejauhan sepasang kaki mungil seorang cewe yang boleh di bilang “cantik” menurut ukuran mahasiswa yang tidak pernah merasakan cinta, alias jomblo. Masuklah dia kedalam ruang kelas yang boleh di bilang lumayan, lumayan ancur, bau dan kotor. Fakultas kami emang paling jelek se universitas. Tak ada angin atau badai ataupun mimpi buruk tadi malem ternyata dan ternyata cewe itu adalah dosen kelasku pagi ini, Rina namanya, dosen salah satu mata kuliah yang boleh di bilang mata kuliah yang bikin botak kepala dan memusingkan dengan angka-angka yang gak jelas dan membuat mual perut. Selama bertaun-taun dan bermacam semester akhirnya ada juga dosen yang membikin mata merem melek, dan gak merem terus. Sebelum dia ada, mata mahasiswa selalu tersakiti dengan di suguhi wajah-wajah dosen yang sudah di bilang fakir dan afkir, dengan kata lain, miskin akan tampilan cantik ataupun ganteng dan udah gak produktif lagi alias tua, dan bila di ibaratkan tebu yang cuma tinggal ampas tanpa ada sari untuk dapat di nikmati kesegarannya. Gak cewe gak cowo semua dosen suka memelihara uban mereka dan wajah keriput yang membosankan dan bikin mata merah. Mata yang berharap banyak akan keindahan ternodai selama bertaun-taun dengan wajah serem berbagai karakter dosen afkir. Akhirnya masa ke emasan mahasiswa datang juga dengan ke hadiran bu Rina, dewi cinta yang lumayan, lumayan cantiknya, ca’emnya, asoinya+geboinya yang bisa ngepotin mata mahasiswa yang terbiasa dfengan berbagai adegan film porno. Biarpun aku gak pernah ngobrol ataupun bertanya pelajaran padanya tapi hati ini merasa deket banget, seperti kepompong ulet yang melekat erat di dahan pohon atau seperti istilah ngetren kantor pos, bak perangko dengan amplop. Oh bu Rina, sorot matanya tajam man, seperti cewe yang minta di cium dengan gaya perlahan dan pelan namun pasti menghanyutkan, dengan gaya bicara yang agak gimana namun menggairahkan, dia mampu menghanyutkan mata para cwo dalam genggaman kekuasaannya dalam menerangkan mata kuliah yang dia ajarkan. Lama-lama aku merasa bukan pelajaran yang masuk daam otakku selama ini tapi wajah bu Rina yang aduhai yang terus masuk dan semakin dalam menggerayangi syaraf motorikku yang terus terbayang dan suka menggoda dan menggangu konsentrasi belajarku. Dasar bu Rina, maunya apa si? Tapi ada kata sayang dan sungguh sayang yang mengikuti perjalanannya menyusuri batinku yang meronta-ronta untuk berkata kagum padanya, bu Rina yang cantik ternyata sudah punya peliharaan kuda liar, dengan kata lain bersuami. Ohhhh………..betapa sedihnya hati mahasiswamu yang satu ini bu Rina. Bu Rina oh bu Rina, tetep semangatlah dalam menghanyutkan hati ini dan mahasiswamu yang lain.

Minggu, 19 April 2009

Aku Tunggu di Angka 23

Seperti seekor beruang yang baru bangun dari tidurnya, perasaan yang penuh cerita ada dan tercipta tanpa ada rasa ragu dan karaguan didalamnya. Sebuah tawa lepas terlepas bangkit dari tidur panjang seperti hati yang bermeditasi dengan perasaan tenang, aman, nyaman dan diikuti sebuah kehangatan. Jika aku berpikir ini adalah kehidupan seekor beruang aku telah melakukan apa yang orang bilang tidak tau diri dan terlalu berlebihan. Kenyataan yang orang lihat hanyalah bentuk extrim dari perasaan yang ingin tercapai tapi tidak pernah sampai kemana arah dan tujuannya. Hanya angan yang terkadang ingin berbuah keajaiban untuk memiliki apa yang dinamakan orang yang dicintai dengan perasaan nyaman, cocok, dan tanpa adanya bentuk keraguan. Hari ini adalah hari dimana aku bangkit dari tidur panjang dari usia 21 menuju ke 22. Tapi tidak bangkit sebagai seekor beruang yang penuh percaya diri dalam hal cinta. Aku bangkit dalam wadah yang aku namakan cebong, seekor binatang yang yang orang bilang menjijikkan namun syarat dengan perubahan. Berharap suatu saat nanti menjadi apa yang ada dalam cerita legenda di sebut pangeran kodok. Malam ini cebong melihat betapa indah bulan yang bersinar, saat cebong menengok kelangit yang dia lihat adalah sebentuk bulan yang tersenyum, yang disebut banyak orang pintar sebagai bulan sabit. Itulah pertama kali cebong bertemu dan berjumpa dengan bulan yang baru saja cemberut, dengan raut muka penuh masam seperti asam, kecut seperti jeruk nipis dan keriput seperti kulit jeruk. Setiap hari cebong bercengkrama dengan bulan sabit yang semakin tersenyum dan membuang rasa putus asa yang dia ceritakan kepada cebong, dengan kata lain sebuah CURHAT, kependekan dari curahan hati. Hari dan malam pun berlalu dan bentuk bulanpun semakin indah menuju tahap sempurna, bentuk bulan purnama yang indah. Seiring waktu yang berlalu dan terus berlalu cebong pun menyandarkan hatinya kepada sosok bulan. Namun ternyata cebong berada dalam posisi yang bisa di bilang rumit, dengan bahasa gaulnya komlpeks. Bulan adalah sebuah cerita yang tidak tau datang dari mana dan tiba-tiba ada dan berada diantara cebong dan matahari. Matahari, sosok yang kata bulan adalah imam yang dia panuti dan dia dampingi yang telah mencampakkan hati bulan. Seperti cerita lama, cebong hanyalah tempat curahan hati para pencari pondasi cinta yang runtuh. Seperti agen penyedia jasa curhat tapi dengan bayaran seikhlasnya, seperti itulah cebong melewati hari-hari yang kadang dipenuhi dengan rasa cinta yang dia rasakan entah dari mana berhembusnya. Semakin lama cebong makin terpesona dengan sosok bulan yang menururt cebong anugerah di balik musibah. Cebong berpikir apa salahnya dia membuka lembar baru dengan bulan, biarpun jarak itu terlalu jauh untuk dia lewati dan rangkai menjadi sebuah cerita indah bersama bulan. Cebong terus berkata mengenai sebuah harapan dan rasa cinta+sayang kepada bulan, dengan penuh semangat yang tidak dia sangka akan hilang menguap seperti air hujan yang sesaat membasahi dan hilang begitu saja dengan meninggalkan rasa kering dan dahaga cinta yang teramat menyiksa. Satu nama yang kini terukir di dalam hati cebong akan terus ada dan menjadi abadi tapi entah sampai kapan. Nama itu kini membuat hari yang dulu kusam dan buram menjadi indah. Hingga suatu ketika bulan telah membentuk wujud hatinya menjadi sempurna, dan berkata alangkah baiknya aku kembali kepada matahari. Seperti seakan telah tergaris harapan cebong hanyalah isapan jempol dan dianggap mengada-ada oleh dunia, cebongpun berkata terserah. Cebong tau dan sadar siapa dia, bulan dan siapa matahari. Cebong tau tempat dia bukanlah di atas langit bersama bulan, tetapi sebuah tempat yang gelap di dasar hatinya sendiri dan berusaha bersahabat dengan rasa kecewa. Ternyata bentuk bulan purnama tidak selamanya membawa cerita indah, bulan berkata di suatu senja kepada cebong, bulan berkata bong aku ingin kembali kepelukan matahari. Cebong hanya bisa berkata iya, dan semua itu bulan yang tau mana baik dan buruknya. Cebong hanya bisa tersenyum memberi semangat kepada bulan yang telah pergi dan kembali ke pelukan matahari, meskipun nama yang telah terukir itu begitu dalam terpahat di hati, cebong hanya bisa menerima. Cebong berkata aku akan menunggumu kembali menyinari malam-malamku di dasar sungai hati ini. Dengan penuh rasa dan cinta dimana hanya kita yang tau apa yang ada dan berada di dalam hati kita. Meskipun akhinya kita terpisah, bilakah masanya nanti kita akan bertemu dan mengembalikan cerita indah kita yang terputus dulu. Bersama dalam satu rasa dan perasaan yang sama. Dengan perasaan yang pasti cebong akan menunggu bulan kembali hingga hari jadinya yang ke 23 tahun depan. Jika bulan tidak jua muncul, cebong akan pergi dan berharap matahri bisa menjadi apa yang bulan inginkan.

Dedicated to FUN, sebuah gambaran betapa indahnya bulan